Di susun Oleh : Bastian Bito
Mahasiswa : Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
I.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Limbah
pisang biasanya dibuang saja tanpa termanfaatkan sama sekali. Limbah
pisang ini berupa pisang busuk, pisang rusak, dan kulit pisang. Limbah
pisang (Mussa spp), yang buahnya banyak ditanam dan menjadikonsumsi di
negeri ini adalah buah dan panganan populer. Adanya upaya pemanfaatan limbah pisang ini telah memberikan banyak pilihan untuk mendayagunakannya dari sekedar sampah saja. Kulit pisang dapat dimanfaatkan menjadi obat tradisional, kerupuk, asam asetat, dan etanol. Untuk yang terakhir ini telah dilakukan penelitian awal oleh beberapa peneliti yang telah menunjukkan potensi dihasilkannya etanol.
Produksi pisang di Indonesia tahun 2002 adalah 4,384,384 ton dengan
konsumsi pisang tahun 1999 sebesar 8.27 kg/kapita/tahun (Direktorat
Tanaman Buah, 2004). Besarnya konsumsi pisang di Indonesia menyebabkan potensi limbah pisang dapat didayagunakan. Data di Amerika Selatan dan Tengah menyatakan limbah
pisang berjumlah 25% dari total produksi pisang (Clavijo & Manner,
1974). Limbah ini adalah pisang yang tidak memenuhi standar ekspor
karena variasi ukurannya, rusak, atau karena produksi berlebih. Di Indonesia sendiri acuan standar mutu pisang yaitu SNI nomor 01-4229-1996.
Pisang
sebagai salah satu biomass merupakan sumber potensial karena mengandung
karbohidrat sebesar 20-30% (Sharrock & Lusty, 1999) yang merupakan
sumber glukosa. Glukosa dapat difermentasi untuk dijadikan etanol. Pada tulisan
ini untuk menghasilkan etanol dari limbah pisang digunakan hidrolisis
dengan asam H2SO4 dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan ragi
Saccharomyces cereviseae. Penggunaan asam kuat H2SO4 dikarenakan bahan
tersebut murah. Adapun metode yang digunakan bertujuan memaksimalkan
kadar etanol yang dihasilkan dengan variasi waktu fermentasi.
1.2. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui manfaat kulit pisang di Provinsi Bengkulu untuk pembuatan etanol.
II. PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG
Proses Pembuatan Etanol
Pada saat hidrolisis terjadi pemutusan polisakarida menjadi rantai pendek glukosa. Asam H2SO4 mengkatalis
dengan cepat pada proses hidrolisis karena kekuatan ion H+sehingga
terjadi pemutusan rantai polisakarida menjadi glukosa. Proses setelah
hidrolisis adalah fermentasi dengan menggunakan ragi. Glukosa hasil hidrolisis diubah oleh ragi menjadi etanol. Kemampuan ragi menghasilkan etanol bergantung pada kadar glukosa, nutrisi, pH, kadar oksigen, dan faktor lingkungan lainnya. Pentingnya pra fermentasi menyebabkan pengaturan kondisi optimum untuk lingkungan ragi dilakukan pada penelitian ini. Salah satunya adalah kadar glukosa sebagai media pertumbuhan ragi.
Untuk itu ingin
dilihat kadar glukosa hasil dari proses hidrolisis. Pengukuran kadar
glukosa dilakukan pada hasil hidrolisis sampel pulp pisang cavendish.
Pengukuran kadar glukosa ini hanya untuk melihat kemampuan asam H2SO4 4%
menghasilkan glukosa pada pulp pisang buah. Setelah dilakukan
pengolahan data maka didapatkan hasil kadar glukosa sebesar 11.3276%
volume. Menurut Casida (1980), kadar glukosa yang dibutuhkan pada fermentasi berada pada konsentrasi 10-18%, sehingga kadar glukosa yang dibutuhkan telah mencukupi. Konsentrasi gula diatas 25% akan memperlambat fermentasi, sedangkan diatas 70% proses fermentasi akan berhenti. Hal ini akibat adanya tekanan osmotik.
Pada konsentrasi gula substrat sekitar 16% akan mempercepat pertumbuhan ragi pada awal fermentasi. Apabila konsentrasi etanol yang dihasilkan melebihi 15% maka etanol akan merusak dinding sel dan membekukan plasma sehingga mikroorganisme mati. Dari perhitungan kadar glukosa, maka kadar glukosa hasil hidrolisis pulp telah mencukupi untuk dilanjutkan ke proses fermentasi. Adapun untuk proses fermentasi tidak hanya dibutuhkan kadar glukosa yang Proses
Kimia Ramah Lingkungan cukup, namun juga faktor-faktor lain seperti
suhu fermentasi, ph yang tepat, ragi, dan nutrisi yang dibutuhkan.
Nutrisi
merupakan faktor yang cukup penting karena nutrisi dibutuhkan untuk
pertumbuhan ragi. Ragi memerlukan beberapa unsur untuk pertumbuhannya
seperti karbon, hidrogen, fosfor, kalsium, sulfur, besi, danmagnesium.
Meskipun dalam jumlah kecil dibutuhkan juga mineral seperti Cu, Zn, Co,
dan Mn. Faktor pertumbuhan yang juga penting adalah vitamin. Adapun untuk pemenuhan nutrisi telah dipenuhi dari kandungan pisang yang mengandung mineral dan vitamin tersebut.
Untuk kadar oksigen, maka perlakuan yang dilakukan adalah menutup rapat wadah fermentasi. Tertutupnya wadah dibutuhkan karena ragi melakukan fermentasi dalam kondisi anaerob. Pengaturan Ph dilakukan sehingga berada pada pH optimum ragi (4-4.5). Sedangkan temperatur fermentasi adalah pada temperatur ruang tempat penyimpanan yaitu 29 C. Berhubungan dengan asal bahan baku, maka kulit pisang yang merupakan limbah ini diperoleh langsung dari tempat limbahnya. Dalam penanganannya, kulit pisang harus dibersihkan lebih dahulu dari kotoran.
Untuk pengembangan selanjutnya maka dapat lebih diteliti pengaruh umur dan kondisi lingkungan dari limbah kulit pisang yang akan mempengaruhi proses selanjutnya.
Hasil fermentasi
pada komponen limbah pisang mencoba untuk mengamati potensi kadar
etanol yang dapat dihasilkan dari ketiga komponen yaitu pulp, campuran
pulp dan kulit, serta kulit. Ketiga komponen ini dijadikan variasi
komponen dari limbah pisang dengan diambil dari pisang yang rejected.
Dari fermentasi ketiga komponen dapat dibandingkan potensi kadar etanol diketiganya dan efektifitas penggunaan antar komponen sebagai limbah. Pulp yang digunakan sebagai sampel kondisinya lewat matang dan rusak.
Dengan
mengambil waktu optimum ragi antara 3-7 hari didapat kadar etanol
maksimum dari fermentasi pulp pisang cavendish dihasilkan pada hari ke 5 dengan kadar etanol sebesar 1.91% v/v. Pada fermentasi pulp pisang kepok kadar etanol maksimum didapatkan pada hari ke 6. Kadar etanol maksimum dari fermentasi pulp kepok sebesar 1.98% v/v.
Pada kulit pisang cavendish terlihat kadar etanol maksimum dihasilkan pada fermentasi di hari ke 5 dengan yield 0.37% v/v. Sedangkan pada kulit pisang kepok kadar etanol maksimum dihasilkan dari fermentasi di hari ke 4 dengan yield sebesar 0.45% v/v. Pada
fermentasi campuran pulp dan kulit cavendish dihasilkan kadar etanol
tertinggi pada fermentasi hari ke 6 sebesar 0.83% v/v etanol. Pada
fermentasi dengan menggunakan campuran pulp dan kulit cavendish kadar etanol yang dihasilkan akan sangat bergantung pada komposisi bahannya. Sedangkan pada fermentasi campuran pulp dan kulit pisang kepok dihasilkan kadar etanol maksimum sebesar 1.52% v/v pada fermentasi harike 6.
Perbedaan yield ini disebabkan lebih besarnya kandungan karbohidrat pisang kepok (30%) dibanding pisang cavendish (25%). Dari sini dihasilkan kadar etanol dari sampel campuran pulp dan kulit pisang yang lebih kecil dari sampel pulp pisang. Hal ini dikarenakan penggunaan basis massa sampel yang sama. Dalam pemanfatan limbah pisang kedepannya, penggunaan campuran pulp dan kulit pisang akan lebih menguntungkan karena akan dihasilkan yield yang lebih besar dibandingkan penggunaan pulp saja atau kulit pisang saja.
Dari
ketiga komponen terlihat bahwa pola pembentukan etanol mengikuti fase
pertumbuhan ragi. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan kadar etanol yang
lebih tinggi perlu dipercepat pertumbuhan ragi pada fase logaritmik
dengan mengoptimalkan faktor-faktor pendukung pertumbuhan ragi yang
lain seperti meminimalkan organisme pengganggu dengan kondisi yang lebih
steril, penggunaan ragi yang aseptis dan mengkontrol nutrisi yang dibutuhkan ragi.
Hasil Variasi Kulit Limbah Pisang
Kulit pisang yang dibuat etanol
adalah kulit pisang cavendish, kulit pisang kepok dan kulit pisang
nangka. Pada kulit pisang cavendish terlihat kadar etanol paling besar
dihasilkan pada fermentasi di hari ke 5 dengan yield 0.37% v/v. Pada kulit pisang kepok, kadar etanol tertinggi dihasilkan pada fermentasi di hari ke 4 dengan yield 0.45% v/v. Sedangkan pada kulit pisang nangka, kadar etanol tertinggi dihasilkan di hari ke 5 dengan yield 0.20% v/v.
Dari
kadar etanol yang dihasilkan terlihat bahwa fermentasi pada variasi
kulit pisang mencapai kadar etanol tertinggi terjadi pada hari ke 4 dan
ke 5. Perbedaan waktu terbentuknya kadar optimal dapat terjadi karena pengaruh jumlah karbohidrat dan nutrisi yang ada pada limbah pisang. Nutrisi pada pisang sayur (kepok dan nangka)
lebih besar dari pisang buah (cavendish). Karbohidrat yang lebih banyak
akan memperbesar yield glukosa. Sedangkan nutrisi yang cukup akan
meningkatkan pertumbuhan ragi pada fase eksponensial.
Dari hasil percobaan kadar etanol hasil fermentasi kulit pisang nangka yang rendah terjadi karena adanya mikroorganisme yang mengganggu pada wadah fermentasi. Ini terlihat dari adanya jamur berwarna kuning pada permukaan. Hal ini
dapat terjadi karena kondisi post hidrolisis yang memungkinkan adanya
mikroorganisme pada wadah fermentasi karena lembab. Mikrorganisme ini
mengambil etanol untuk pertumbuhannya dan juga kemampuan ragi menurun
karena persaingan tempat bertumbuh. Dari
tiap variasi sampel maka dapat diambil kadar maksimum etanol yang
dihasilkan. Jumlah maksimum etanol dari tiap variasi komponen limbah
dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini.
Untuk
melihat potensi limbah pisang dijadikan etanol, maka dihitung
perbandingan jumlah etanol yang dihasilkan terhadap massa bahan. Dari
sini bisa dilihat potensi etanol yang dihasilkan dari limbah pisang.
Pada variasi komponen limbah pisang, jumlah maksimum etanol yang
dihasilkan pisang buah adalah pada fermentasi pulp cavendish sebanyak 0.05 l/kg fresh wt atau 0.25 l/kg dry wt. Untuk fermentasi campuran pulp dan
kulit cavendish dihasilkan etanol maksimum sebanyak 0.02 l/kg fresh wt
atau 0.13 l/kg dry wt. Sedangkan pada kulit cavendish jumlah etanol
maksimum sebanyak 0.01 l/kg fresh wt atau 0.09 l/kg dry wt.
Bila dibandingkan antara yield etanol antara kadar terbanyak pulp pisang buah dengan kulit pisang buah yaitu 5.22 pada basis fresh dan 2.72 pada basis kering (dry wt). Untuk
variasi komponen pada pisang kepok maka dihasilkan jumlah maksimum
etanol dari pulp sebesar 0.07 l/kg fresh wt atau 0.36 l/kg dry wt. Untuk
fermentasi campuran pulp dan kulit kepok dihasilkan etanol maksimum
sebanyak 0.06 l/kg fresh wt atau 0.32 l/kg dry wt. Sedangkan pada kulit
jumlah etanol maksimum sebanyak 0.01 l/kg fresh wt atau 0.15 l/kg dry
wt. Bila dibandingkan antara yield etanol antara kadar terbanyak pulp pisang kepok dengan kulit pisang kepok yaitu 4.44 pada basis fresh dan 2.31 pada basis kering (dry wt).
Pada
variasi limbah kulit pisang, maka jumlah maksimum etanol dihasilkan
dari fermentasi kulit pisang kepok selama 4 hari dengan menghasilkan
etanol sebanyak 0.017 l/kg fresh wt atau 0.16 l/kg dalam dry wt. Ini lebih tinggi dari kulit cavendish (0.010 l/kg fresh wt atau 0.09 l/kg dry wt) dan kulit nangka (0.007 l/kg fresh wt atau
0.07 l/kg dry wt). Tingginya hasil etanol pada kulit pisang kepok
dibandingkan kulit cavendish dan kulit pisang nangka disebabkan
kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dari pisang sayur (kepok) bila
dibandingkan pisang buah (cavendish), ini dengan asumsi yield etanol
kulit pisang nangka lebih sedikit karena adanya jamur.
Dari
yield maksimum pulp kepok dan kulit pisang kepok dari berat kering (dry
wt), maka potensi limbah pisang, terutama kulit pisang kepok,
berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk dibuat menjadi
etanol. Apalagi dilihat dari nilai keekonomisannya.Berikut adalah yield etanol yang dihasilkan dari beberapa bahan baku dalam basis berat kering yaitu jagung sebesar 0.403 l/kg, apel sebesar 0.406 l/kg, kentang sebesar 0.451 l/kg, kentang manis sebesar 0.409 l/kg (Badger et.al,1982). Sedangkan untuk pisang buah, yield pulp sebesar 0.543 l/kg, campuran buah dan kulit pisang sebesar 0.499 l/kg dan kulit pisang sebesar 0.181 l/kg (Hammond et.al, 1996).
Dari hasil pembahasan tersebut maka untuk yield pulp pisang buah (0.254 l/kg) dan pisang sayur (0.361 l/kg) lebih kecil bila dibandingkan dengan penelitian yang telah ada. Namun untuk yield dari kulit pisang, maka yield pisang buah sebesar
0.093 l/kg dan kulit pisang kepok sebesar 0.156 l/kg cukup
menguntungkan karena pada percobaan digunakan asam H2SO4 sebagai katalis
pada hidrolisis.
III. KESIMPULAN
1. Jumlah
maksimum etanol yang dihasilkan pada variasi komponen limbah pisang
buah adalah dari fermentasi pulp cavendish selama 5 hari dengan
menghasilkan etanol sebanyak
0.053 l/kg fresh wt. Padacampuran pulp dan kulit pisang buah, jumlah
etanol terbanyak didapatkan dari fermentasi selama 6 hari sebesar 0.023 l/kg.
2. Fermentasi pulp kepok selama 6 hari menghasilkan etanol sebanyak
0.076 l/kg. Pada campuran pulp dan kulit pisang sayur, jumlah etanol
terbanyak didapatkan dari fermentasi selama 6 hari sebesar 0.058 l/kg.
3. Jumlah maksimum etanol dihasilkan dari fermentasi kulit pisang sayur (kepok) selama 4 hari menghasilkan etanol sebanyak 0.017 l/kg.
DAFTAR PUSTAKA
Casida
(1980). didalam Sijabat, H.R. (2001). Pemanfaatan Air Kelapa Sebagai
Media Dasar Pertumbuhan untuk Memproduksi Etanol oleh Saccharomyces
cerevisiae. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor.
Juni Nugrahani et.al, (1990). Pembuatan Alkohol dari Kulit Pisang Kepok. Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan.
http://www.unnes.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar